Selasa, 25 April 2017

Kapal Raksasa dan Era Baru Arus Logistik RI


Kapal Raksasa dan Era Baru Arus Logistik RI Foto: Rengga Sancaya


Jakarta - Berlabuhnya kapal CMA-CGM Otello di dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT), Pelabuhan Tanjung Priok kemarin, menjadi pertanda layanan jasa angkut peti kemas dari Tanjung Priok, Indonesia menuju West Coast (LA & Oakland) Amerika Serikat telah dimulai.

Pelayanan yang diberi nama Java South East Asia Express Services/ Java SEA Express Services atau disingkat JAX Services terasa lebih spesial, sebab kapal-kapal yang digunakan memiliki kapasitas sangat luas sehingga para media menjulukinya kapal raksasa. CMA-CGM Otello sendiri memiliki kapasitas hingga 8.238 TEUs dengan.

Kapal tersebut merupakan kapal milik perusahaan pelayaran asal Perancis, Compagnie Maritime d'Affretement - Compagnie Generali Maritime (CMA-CGM). Khusus untuk pelayaran ini CMA-CGM mengerahkan 17 kapal yang rata-rata memiliki kapasitas di atas 8.000 TEUs.

Seluruh kapal raksasa tersebut akan lalu lalang Indonesia-AS dengan rute Jakarta-Laem Chabang (Thailand)-Cai Mep (Vietnam)-Los Angeles-Oakland. Dengan adanya 17 kapal yang dikerahkan maka diterapkan sistem weekly call atau sandar mingguan secara rutin.
Pengecekan Kapal Raksasa di Tanjung PriokPengecekan Kapal Raksasa di Tanjung Priok Foto: Dok. Kemenhub

Pemerintah dan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II sebagai operator pelabuhan tentu merasa bangga adanya perusahaan pelayaran cargo kelas dunia yang mau membuka jalur di Indonesia. Namun minat dari para perusahaan logistik di Indonesia terhadap pelayaran tersebut sepertinya masih belum maksimal



CMA-CGM Otello yang datang kemarin telah melakukan pembongkaran sebesar 844 TEUs dan memuat 1.967 TEUs. Dengan begitu total bongkar muat dari kapal tersebut mencapai 2.811 TEUs. Padahal kapal tersebut memiliki kapasitas penuh hingga 8.238 TEUs.

Meski begitu upaya Pelindo II untuk membuat Pelabuhan Tanjung Priok naik kelas patut diacungi jempol. Sebab untuk menggaet kapal raksasa lainnya untuk melayani pengiriman peti kemas, BUMN pelabuhan tersebut harus melakukan pengerukan kedalaman dermaga JICT agar bisa disandari oleh kapal-kapal raksasa.
Pengecekan Kapal Raksasa di Tanjung PriokPengecekan Kapal Raksasa di Tanjung Priok Foto: Dok. Kemenhub
Pelindo II telah melakukan pengerjaan pengerukan dermaga. Sebelumnya kedalaman dermaga JICT sekitar minus 12-13 meter, sementara saat ini kedalamannya sudah mencapai minus 13-14 meter. Sementara ditargetkan kedalaman dermaga JICT akan mencapai minus 16 meter pada Agustus nanti.

Kedalaman yang ada saat ini memang bisa disandari oleh kapal CMA-CGM yang rata-rata memiliki kapasitas hingga 8500 TEUs. Namun hal itu karena tingkat keterisiannya saat ini masih mencapai rata-rata 2300 TEUs. Jika kapal tersebut terisi penuh maka dibutuhkan kedalaman dermaga JICT mencapai minus 15,5 meter.

Untuk melakukan pengerukan tersebut Pelindo II menyiapkan capital dredging sebesar Rp 2,5 triliun. Selain digunakan untuk pengerukan, dana tersebut juga digunakan untuk memperlebar pelabuhan dan terusan sungai.
Kapal RaksasaKapal Raksasa Foto: Danang Sugianto
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pun menyanjung upaya tersebut. Sebab Presiden Joko Widodo telah memberikan target agar menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan hub yang mampu bersaing dengan negara tetangga.

Dengan adanya pelayaran langsung ke AS Budi yakin akan memberikan dampak positif bagi dunia usaha. Dia memperkirakan dengan adanya rute pelayanan peti kemas tersebut maka akan ada penghematan biaya pengiriman barang ke AS hingga 30%. Sebab sebelum adanya kapal milik CMA-CGM itu pengiriman barang dari RI ke AS harus melalui pelabuhan di Singapura.



Tidak hanya itu, dia juga yakin waktu untuk pengiriman petikemas menuju AS akan terpangkas hingga 10 hari. "Berarti tingkat daya saing dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju AS mencapai suatu tingkat competitiveness yang sama dengan negara-negara tetangga," kata Budi di Tanjung Priok, Jakarta akhir pekan lalu.

Budi juga mengingatkan ke Pelindo II agar terus mengejar target yang diberikan Presiden untuk meningkatkan kapasitas pelayanan di Tanjung Priok menjadi 12 juta TEUs di 2019. Sementara saat ini baru mencapai 6 juta TEUs.


Sedangkan dari sisi CMA-CGM sebagai entitas bisnis tentu merasa tentu merasa puas karena mendapatkan pangsa pasar baru di Indonesia. Perusahaan itu menargetkan bisa menguasai pangsa pasar pelayanan pengiriman peti kemas di Indonesia hingga 20%. Saat ini CMA-CGM Gruop menguasai pangsa pasar di Indonesia mencapai 13%.

CMA CGM Group hadir di Indonesia sejak 1995. Perusahaan ini menjadi salah satu perusahaan penyumbang terbesar lalu-lintas kontainer internasional ke pelabuhan-pelabuhan dalam naungan Pelindo. Ada 5 rute pelayaran langsung yang sudah dibuka oleh CMA-CGM di Indonesia.
Kapal RaksasaKapal Raksasa Foto: Danang Sugianto

Dari catatan pengusaha logistik, ongkos pengiriman barang barus bisa akan turun bila kapal tersebut bisa terisi minimal 50%. Meskipun kapal sudah tak lagi lewat Singapura. Artinya, baik pemerintah maupun BUMN terkait harus berupaya lebih keras.

Sekarang ongkos angkut barang ke AS sekitar US$ 100-200 per kontainer, dan biaya bongkar muat sekitar US$ 90-120 per kontainer.

"Bedanya bisa lebih murah 10-15% dengan langsung (direct call). Tapi bisa menjadi lebih mahal kalau kapal besar ini cuma terisi 25% dari kapasitas sekarang," Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Zaldy Ilham Masita kepada




Credit  finance.detik.com


Ini Rute Pelayaran Kapal Raksasa yang Bersandar di Tanjung Priok



Jakarta - Kapal raksasa yang belakangan ramai diperbincangkan akhirnya memulai secara resmi pelayanan jasa angkut peti kemas dari Tanjung Priok, Indonesia menuju West Coast (LA & Oakland) Amerika Serikat. Compagnie Maritime d'Affretement - Compagnie Generali Maritime (CMA-CGM) selaku perusahaan pemilik kapal sudah menyiapkan 17 kapal untuk melayani dengan sistem weekly call atau sandar minggu secara rutin.

Seluruh kapal yang dikerahkan oleh CMA CGM itu memiliki kapasitas rata-rata hingga 8.500 TEUs dengan servis yang diberi nama Java South East Asia Express Services/ Java SEA Express Services atau disingkat JAX Services.

Meski rutenya dari Indonesia menuju AS, namun kapal-kapal tersebut juga akan transit di Laem Chabang Thailand dan Cai Mep Vietnam. Sehingga rutenya menjadi Jakarta-Laem Chabang (Thailand)-Cai Mep (Vietnam)-Los Angeles-Oakland.

"Saya apresiasi yang dilakukan PT Pelindo II yang bekerjasama dengan CMA-CGM yang bisa lakukan JAX Service yang melayani Tanjung Priok yang juga melakui Thailand dan Vietnam," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (23/4/2017).
Ini Rute Pelayaran Kapal Raksasa yang Bersandar di PriokFoto: Rengga Sancaya
Dengan rute tersebut, jasa pengangkutan ekspor impor di Indonesia akan lebih efisien. Sebab sebelumnya untuk mengirim maupun mendatangkan barang dari AS harus melalui Singapura terlebih dahulu.

"Dengan kapasitas yang besar bagi kita ini suatu prestasi yang baik, dan akan memajukan logistik Indonesia. Saya harapakan CMA-CGM menjadikan Indonesia sebagai homebase," imbuhnya.
Ini Rute Pelayaran Kapal Raksasa yang Bersandar di PriokFoto: Dok. Pelindo II
Oleh karena itu pemerintah mendorong agar Tanjung Priok bisa menjadi pelabuhan direct call jarak jauh. Sehingga pelabuhan ini mampu melayani kapal pengangkut kapal peti kemas berkapasitas besar lainnya.




Credit  finance.detik.com