Kamis, 22 Juni 2017

Perusahaan Jepang Ini Buat Satelit Penyapu Sampah Antariksa


Perusahaan Jepang Ini Buat Satelit Penyapu Sampah Antariksa 
Ilustrasi sampah antariksa. (Foto: NASA)


Jakarta, CB -- Antariksa tak sesunyi yang dikira banyak, mengingat beragam inovasi manusia dalam meneliti antariksa menghasilkan sampah yang tak indah dilihat.

Selain itu, sampah antariksa juga berbahaya bagi satelit yang masih beroperasi dan wahana antariksa lain yang sedang mengusung misi.

Sadar dengan bahaya yang ditimbulkan, sebuah perusahaan Jepang bernama Astroscale menciptakan satelit untuk mengatasi masalah sampah antariksa itu. Dalam misi ini, mereka akan membuat dua jenis satelit yakni satelit mini untuk menggambarkan peta orbit sampah antariksa dan satelit yang diberi nama End of Life Service (ELSA) untuk 'menyapu' sampah-sampah tersebut.

Untuk mengumpulkan sampah antariksa, ELSA akan dilengkapi dengan magnet. Setelah terkumpul, sampah akan dibawa dan dibuang ke atmosfer Bumi agar terbakar.


Guna mewujudkan ambisi itu, Astroscale merekrut tim spesialis bernama "Space Sweepers" yang bertugas mengembangkan teknologi untuk akan mengangkut sampah yang terkumpul ke atmosfer.

"Dari fase konstruksi hingga peluncuran, ini adalah misi yang amat menantang," ucap Miki Ito, Presiden Astroscale kepada CNN.

Perusahaan yang berbasis di Singapura ini berencana melakukan demonstrasi cara kerja satelit penyapu antariksa mereka pada Oktober 2019.

Namun Astroscale tidak sendirian dalam proyek bersih-bersih luar angkasa. Setidaknya NASA dan ESA telah mempelajari cara mendekati, menangkap, dan membawa sampah antariksa keluar dari orbitnya. Jaring, lengan robot, dan harpun, adalah contoh alat yang diteliti kemungkinannya untuk mengumpulkan sampah antariksa.

Ukuran sampah antariksa beragam, mulai dari yang sebesar truk hingga hanya seukuran koin logam. Akan tetapi, ukuran objek punya dampak yang sama berbahaya bagi wahana antariksa yang masih aktif beroperasi.

Tubrukan dari benda berukuran satu sentimeter saja bisa mengasilkan kekuatan yang setara ledakan granat tangan. Hal itu disebabkan oleh kecepatan objek dalam mengorbit. ESA memperkirakan benda mati di antariksa mengorbit dalam kecepaatan 8 kilometer per detik, atau lebih cepat 10 kali dari sebuah peluru.

Jika sampah antariksa ini tidak dibersihkan, maka bukan tak mungkin satelit yang menunjang kehidupan sehari-hari manusia di Bumi akan kena tabrak.

"Satelit punya peran penting seperti ramalan cuaca, komunikasi, dan GPS," kata astronaut Jepang, Naoko Yamazaki.

Terlebih saat ini belum ada hukum yang mewajibkan pemilik benda antariksa menarik barangnya ketika sudah mati. Maka dari itu Astroscale pun berupaya menjual jasa membersihkan antariksa lewat proyek ini.

"Kalau kita tidak mencoba berkontribusi membersihkan luar angkasa, akan berbahaya bagi hidup kita," pungkas Yamazaki. 






Credit  cnnindonesia.com