Kamis, 19 Oktober 2017

Khamenei: Iran Hancurkan Kesepakatan Nuklir jika AS Cabut Diri



Khamenei: Iran Hancurkan Kesepakatan Nuklir jika AS Cabut Diri
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Foto/REUTERS/Leader.ir


TEHERAN - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa negaranya akan mempertahankan kesepakatan nuklir dengan enam kekuatan dunia pada 2015. Teheran komitmen mematuhi kesepakatan nuklir selama enam kekuatan dunia juga mematuhinya.

“Namun (Iran) akan menghancurkannya jika Amerika Serikat (AS) mencabut diri,” kata Khamenei pada hari Rabu seperti disiarkan stasiun televisi pemerintahTeheran.

Enam kekuatan dunia yang mencapai kesepakatan dengan Iran dalam perjanjian nuklir itu adalah AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China.

Komentar Khamenei ini muncul lima hari setelah Presiden Donald Trump mengadopsi pendekatan baru yang keras terhadap Iran dengan menolak untuk memastikan kepatuhan Washington terhadap kesepakatan tersebut. Washington ikut menyepakati perjanjian nuklir itu di era pemerintah Barack Obama.

Pemimpin tertinggi Iran itu menyambut baik dukungan semua negara, namun hal itu belum cukup. ”Eropa harus melawan langkah-langkah praktis yang diambil Amerika,” katanya, seperti dikutip Reuters, Kamis (19/10/2017).

“Jika Trump membuang kesepakatan, Iran akan menghancurkannya,” lanjut dia. Dalam kesepakatan tersebut, Iran bersedia mengekang program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi atau embargo yang telah menyengsarakan Teheran selama bertahun-tahun.

Tokoh penting Teheran ini melanjutkan bahwa negaranya bertekad untuk melanjutkan program rudal balistik, meskipun ada tekanan dari Eropa dan AS. Teheran mengklaim pengembangan rudal balistiknya semata-mata untuk tujuan pertahanan.

”Mereka harus menghindari campur tangan dalam program pertahanan kami,” papar Khamenei.

”Mereka (orang Eropa) bertanya mengapa Iran memiliki rudal? Mengapa Anda memiliki rudal sendiri? Mengapa Anda memiliki senjata nuklir? Kami rasa tidak dapat diterima orang Eropa bergabung dengan Amerika dalam bullying-nya.” 




Credit  sindonews.com