Rabu, 17 Januari 2018

Dikecam, Trump Sebut Negara Asal Imigran 'Lubang Kotoran'


Dikecam, Trump Sebut Negara Asal Imigran 'Lubang Kotoran'
Politisi AS mengecam pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut negara-negara asal imigran ilegal sebagai 'shithole countries' atau 'lubang kotoran'. (Reuters)


Jakarta, CB -- Beberapa politisi dari kedua partai Amerika Serikat mengecam Presiden Donald Trump. Hal ini lantaran Trump menyebut negara-negara asal imigran ilegal sebagai 'shithole countries' atau 'negara-negara lubang kotoran'.

Ungkapan itu dilontarkan Trump dalam pembahasan reformasi imigrasi dengan para politisi di Ruang Oval, Gedung Putih.

"Mengapa kita ingin agar orang-orang dari negara-negara 'lubang kotoran' datang ke mari?" kata sebuah sumber dalam pertemuan seperti dilaporkan CNN, Jumat (12/1).


Laporan itu pertama kali diungkapkan The Washington Post, Kamis sore, mengutip dua orang yang ikut dalam pertemuan tertutup tersebut.


Seperti dilansir Washington Post, Trump menyarankan Amerika Serikat seharusnya memasukkan warga dari negara-negara seperti Norwegia, yang Perdana Menterinya baru saja dia temui, Rabu (10/1).

Menurut pejabat Gedung Putih, Trump juga akan mengizinkan warga dari negara-negara Asia. Hal ini lantaran, Trump merasa warga Asia dapat membantu ekonomi Amerika.

Saat disebut soal Haiti, Trump menyatakan negeri itu tidak perlu diikutkan dalam kesepakatan apapun. "Kenapa kita perlu lebih banyak orang Haiti," kata Trump seperti dilaporkan Washington Post. "Keluarkan mereka."

"Komentar tidak baik, memecah belah, elitis, dan terbang menjauh dari nilai-nilai bangsa kita," kata anggota DPR AS asal Partai Republik yang mewakili negara bagian Utah, Mia Love.




"Perilaku ini tidak dapat diterima dari pemimpin bangsa kita," kata Love yang kedua orang tuanya berasal dari Haiti. Dia minta Trump minta maaf.

"Orang tua saya berasal dari salah satu negara itu, yang dengan bangga mengucapkan sumpah setia pada Amerika Serikat, dan bertanggung jawab sebagai warga negara," kata Love.

"Mereka tidak pernah mengambil apa pun dari pemerintah federal kita. Mereka bekerja keras, membayar pajak dan bangkit dari nol untuk merawat dan memberi kesempatan bagi anak-anak mereka. Itulah impian Amerika. Presiden harus minta maaf baik kepada rakyat Amerika maupun negara-negara yang dia fitnah dengan jahat," kata Love.

Jim McGovern, anggota DPR asal Partai Demokrat yang mewakili negara bagian Massachusetts pun berkomentar lewat akun Twitter-nya. "Presiden Amerika rasis dan ini buktinya. Retorika kebencian dia tak punya tempat di Gedung Putih. Semua anggota Partai Republik harus mengecam pernyataannya sekarang."

Saat ditanya tentang berita yang dilansir The Washington Post, juru bicara Gedung Putih, Raj Shah tidak membantah.

Seseorang yang hadir dalam pertemuan memberitahu CNN bahwa pernyataan itu terlontar saat Senator Dick Durbin, asal Partai Demokrat dari Illinois sedang mendaftar negara-negara yang akan tercakup dalam Status Perlindungan Sementara.

Sejumlah negara yang dibahas antara lain Haiti, El Salvador dan sejumlah negara Afrika.





Negara Afrika Panggil Dubes AS soal 'Lubang Kotoran' Trump


Negara Afrika Panggil Dubes AS soal  'Lubang Kotoran' Trump
Sejumlah negara Afrika memanggil duta besar Amerika Serikat di negaranya sebagai protes atas pernyataan Presiden Donald Trump soal negara 'lubang kotoran'. (AFP PHOTO / NICHOLAS KAMM)


Jakarta, CB -- Sejumlah negara Afrika memanggil duta besar Amerika Serikat di negaranya sebagai protes atas pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut negara-negara asal imigran ilegal sebagai "shithole countries" atau kurang lebih berarti "negara-negara lubang kotoran".

Wakil Menteri Luar Negeri AS, Steven Goldstein, mengatakan pemerintah Ghana, Afrika Selatan, Haiti, Bostwana, dan Senegal telah memanggil Dubes AS di negara mereka terkait hal tersebut.

Staf Departemen Hubungan Internasional dan Kerja Sama Afrika Selatan telah mengungkapkan keprihatinan pemerintah terkait pernyataan vulgar Trump soal imigrasi yang turut menyebut sejumlah negara.


Berdasarkan pernyataan Kemlu Afrika Selatan, delegasinya menekankan bahwa diaspora warga Afrika memiliki kontribusi besar di Amerika Serikat. Kementerian itu juga menyebut bahwa respons internasional yang banyak mengecam komentar Trump itu menunjukan "penegasan kesatuan dan martabat rakyat serta diaspora Afrika."


Goldstein memperkirakan masih akan ada banyak negara lainnya yang akan memanggil perwakilan tertinggi AS guna mengklarifikasi pernyataan orang nomor satu di Negeri Paman Sam tersebut.

Diberitakan CNN, pernyataan tidak bermoral Trump itu dilontarkannya pada Kamis (11/1) di tengah diskusi kebijakan imigrasi bersama pejabat lainnya di Gedung Putih. Trump, menurut seorang sumber, menyebut negara-negara Afrika yang selama ini menjadi salah satu asal para imigran di AS sebagai "negara lubang kotoran".

Pernyataan itu lantas memicu kecaman keras dari publik AS, termasuk para politikus, hingga masyarakat internasional.

Pada (12/1), Trump membantah telah menggunakan kata-kata yang dimaksud. Dia secara spesifik juga menampik bahwa telah menghina negara Haiti dengan mengatakan bahwa "saya bukan orang rasis."

Goldstein mengatakan Kemlu AS telah menginstruksikan para diplomatnya untuk tidak menafsirkan atau melunakkan ucapan sang Presiden itu. Sebaliknya, dia memaparkan para diplomat AS didorong untuk mendengarkan kelihan dan kekhawatiran negara-negara tersebut terkait pernyataan Trump.

"Presiden memiliki hak untuk membuat ucapan apapun yang dia inginkan dan kami menghormati Presiden. Namun para diplomat telah diinstruksikan untuk menegaskan kembali bahwa AS tetap berkomitmen untuk menjalin hubungan dengan negara-negara tersebut dan sangat peduli terhadap rakyat mereka," kata Goldstein.

"Mereka [para diplomat AS] herus bekerja ekstra keras untuk bisa mengirim pesan itu sekarang. Itu bagian dari tanggung jawab mereka. Hal ini tidak mengubah apa yang seharusnya mereka lakukan," lanjut Goldstein.


Credit  cnnindonesia.com


Kecam Trump, Uni Afrika Ingatkan soal Sejarah Perbudakan AS

 
Kecam Trump,  Uni Afrika Ingatkan soal Sejarah Perbudakan AS
Disebut sebagai negara 'lubang kotoran', Persatuan negara-negara Afrika yang tergabung dalam Uni Afrika mengingatkan Presiden Donald Trump atas sejarah kelam perbudakan di Amerika Serikat. (REUTERS/Carlos Barria)


Jakarta, CB -- Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut negara-negara Afrika adalah negara-negara 'lubang kotoran' karena mendatangkan imigran ilegal, menuai kecaman keras dari berbagai kalangan, termasuk dari Uni Afrika.

Persatuan negara-negara Afrika yang tergabung dalam Uni Afrika mengingatkan Trump atas sejarah kelam perbudakan di Amerika Serikat.

"Mengingat realitas sejarah soal berapa banyak warga Afrika tiba di Amerika Serikat sebagai budak, pernyataan (Trump) tidak dapat diterima," kata juru bicara Uni Afrika, Ebba Kalondo, seperti dilansir The Independent, Jumat (12/1).


"Ini khususnya mengejutkan lantaran Amerika Serikat masih menjadi contoh global soal bagaimana imigrasi melahirkan sebuah negara yang dibangun dengan dasar nilai-nilai kuat soal keberagaman dan kesempatan," kata Kalondo menambahkan.

"Saya meyakini pernyataan seperti itu melukai nilai-nilai global soal keberagaman, hak-hak asasi manusia dan pemahaman yang resiprokal," kata dia.


Negara-negara di Afrika berada di posisi yang rumit setelah pernyataan Trump. Sebagai penerima bantuan AS, beberapa di antaranya enggan mengkritik Trump. Apalagi di saat AS berencana mengurangi dana bantuan asing.

"Kecuali disebutkan secara khusus soal Sudan Selatan, kami tidak mau berkomentar," kata juru bicara pemerintah Sudan Selatan, Ateny Wek Ateny.

Adapun Kongres Nasional Afrika, menyebut pernyataan Trump sangat ofensif. Pemimpin oposisi Afrika Selatan Mmusi Maimane menyebut komentar Trump, 'menjijikkan... kebencian terhadap akar Obama menyebar ke seluruh benua," kata Maimane.

Outlet media Afrika tidak malu-malu mengecam Trump. "Itu adalah definisi rasisme yang sempurna," kata pengusaha Kenya Wangui Muraguri di Nairobi.


Beberapa orang langsung menggunakan bahasa vulgar Trump dalam berbagai kalimat sebagai olok-olok. "Selamat pagi dari negara 'lubang kotoran' terindah di dunia!" sapa penyiar radio Afrika Selatan.

Lewat akun Twitternya Trump membantah telah menyebut negara tertentu sebagai 'lubang kotoran'.

"Bahasa yang digunakan di pertemuan DACA (program untuk melindungi imigran ilegal yang datang ke AS saat masih anak-anak) memang keras, tapi ini bukan bahasa yang digunakan," cuit Trump.

Menurut kabar yang dilansir CNN, juru bicara Gedung Putih Raj Shah tidak membantah pernyataan 'lubang kotoran' Kamis sore.  Dia hanya menyatakan bahwa Trump berupaya "mencari solusi permanen untuk membuat negara kita lebih kuat, dengan menyambut mereka yang dapat berkontribusi lebih banyak bagi masyarakat kita, menumbukan perekonomian kita dan berasimililasi dengan negara kita yang kaya."

Ungkapan 'shithole' atau 'lubang kotoran' itu dilontarkan Trump dalam pembahasan reformasi imigrasi dengan para politisi di Ruang Oval, Gedung Putih.

"Mengapa kita ingin agar orang-orang dari negara-negara 'lubang kotoran' datang ke mari?" kata sebuah sumber dalam pertemuan seperti dilaporkan CNN, Jumat (12/1).

Laporan itu pertama kali diungkapkan The Washington Post, Kamis sore, mengutip dua orang yang ikut dalam pertemuan tertutup tersebut.

Seseorang yang hadir dalam pertemuan memberitahu CNN bahwa pernyataan itu terlontar saat Senator Dick Durbin, asal Partai Demokrat dari Illinois sedang mendaftar negara-negara yang akan tercakup dalam Status Perlindungan Sementara. Sejumlah negara yang dibahas antara lain Haiti, El Salvador dan sejumlah negara Afrika.



Credit  cnnindonesia.com