Rabu, 25 April 2018

Mantan Jenderal Israel : IDF Diizinkan Tembak Anak-anak yang Dianggap Sebagai Ancaman



https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 24 18 1890851 mantan-jenderal-israel-idf-diizinkan-tembak-anak-anak-yang-dianggap-sebagai-ancaman-oo4ClBTnSV.jpg
Foto: Reuters.

TEL AVIV – Seorang mantan jenderal Israel mengonfirmasi laporan yang menyebutkan bahwa pasukan keamanan Zionis diizinkan menyasar dan menembak siapapun yang dianggap cukup dekat ke perbatasan Gaza-Israel dan dapat menimbulkan ancaman, bahkan jika target itu adalah anak-anak. Menurut Brigadir Jenderal Zvika Fogel, kebijakan itu diterapkan untuk memastikan keamanan warga dan wilayah Israel.
"Pada tingkat taktis, setiap orang yang dekat dengan pagar, siapa saja yang bisa menjadi ancaman masa depan bagi perbatasan Negara Israel dan penduduknya, harus membayar untuk pelanggaran itu," kata Brigjen Fogel kepada radio lokal Kan sebagaimana dilansir RT, Selasa (24/4/2018).

Dia mengatakan, seorang anak atau siapa pun juga dapat menyembunyikan bom atau memeriksa adanya zona mati yang tak diawasi atau memotong kawat pagar yang dapat memberikan akses ke wilayah Israel.

Fogel menambahkan, dalam semua kasus seperti itu, hukuman untuk “pelanggaran perbatasan Israel” adalah hukuman mati.
Mantan jenderal yang pernah menjadi kepala staf komando selatan pasukan pertahanan Israel (IDF) itu membenarkan tindakan militer Israel yang melepaskan tembakan ke arah warga Palestina yang mendekati pagar perbatasan. Meski begitu, Fogel menekankan bahwa pasukan Israel tidak perlu menembak untuk membunuh dalam semua kesempatan tersebut.

Demonstran Palestina menghindari tembakan tentara Israel di perbatasan Gaza-Israel. (Foto: Reuters)
Menurut Fogel, para penembak jitu Israel tidak menembak sasaran secara acak menurut pemikiran mereka sendiri, melainkan memilih sasaran secara hati-hati dan menimbang perlunya menembak sasaran tersebut.
“Saya tahu bagaimana penembak jitu melakukan penembakan. Saya tahu berapa banyak otorisasi yang dia butuhkan sebelum dia menerima izin untuk melepaskan tembakan. Bukan hanya karena keinginan salah satu penembak jitu atau lainnya yang mengidentifikasi tubuh kecil anak-anak dan memutuskan dia akan menembak,” ujarnya.

“Seseorang menandai target untuknya dengan sangat baik dan mengatakan kepadanya secara persis mengapa seseorang harus menembak dan apa ancamannya dari individu itu.”
Pernyataan kontroversial itu disampaikan Fogel hanya beberapa hari setelah seorang remaja Palestina berusia 15 tahun, Mohammed Ayoub tewas tertembak dalam demonstrasi Kepulangan Besar di perbatasan Gaza-Israel. Seoramng juru kamera lokal yang merekam kejadian itu mengatakan bahwa Ayoub tidak sedang berada di dekat pagar saat diterjang peluru.

Tindakan brutal IDF terhadap pada demonstran Palestina telah menewaskan 40 orang sejak demonstrasi Kepulangan Besar dimulai pada 30 Maret. Demonstrasi itu akan mencapai puncaknya pada 15 Mei di hari yang disebut sebagai hari nakba oleh warga Palestina.          




Credit  okezone.com