Tampilkan postingan dengan label TUNISIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUNISIA. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 April 2019

Presiden Tunisia tak ingin calonkan diri untuk periode kedua


Presiden Tunisia tak ingin calonkan diri untuk periode kedua

Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi membacakan sumpah jabatan di Majelis Konstituen, Tunis, Tunisia, Rabu (31/12). Politisi veteran Essebsi disumpah sebagai presiden Tunisia Rabu kemarin, menjadikannya presiden pertama yang dipilih secara demokratis sejak gerakan kebangkitan yang menggulingkan otokrat Zine El-Abidine Ben Ali. (REUTERS/Zoubeir Souissi )




Tunis (CB) - Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi mengatakan pada Sabtu ia tidak ingin mencalonkan diri dalam pemilihan presiden untuk periode kedua yang dijadwalkan tahun ini kendati seruan-seruan dari partainya agar mencalonkan diri.

Aksi-aksi unjuk rasa massal yang membuat Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika mengundurkan diri telah menggerakkan oposisi di Tunisia, dan kampanye-kampanye di media sosial telah mulai menolak Essebsi yang berusia 93 tahun untuk mencalonkan diri lagi.

Konstitusi Tunisia yang disahkan oleh parlemen tahun 2014 memberinya hak untuk menjadi presiden selama dua periode.

"Saya akan katakan terus terang bahwa saya tidak ingin mencalonkan diri lagi untuk periode kedua karena Tunisia memiliki banyak orang berbakat," kata Essebsi dalam satu pertemuan partainya Nidaa Tounes di Monastir.

Tunisia akan menyelenggarakan pemilihan parlementer pada 6 Oktober dan pemilihan presiden mulai 17 November.

Pemilihan-pemilihan tersebut akan menjadi rangkaian pemungutan suara ketiga dan rakyat Tunisia dapat memberikan suara dengan bebas setelah revolusi tahun 2011 yang menggulingkan Zine El Abidine Ben Ali, yang telah berkuasa selama 23 tahun.

Pada Desember 2014, Essebsi menang dalam pemilihan presiden bebas pertama, menjadikannya presiden pertama Tunisia yang dipilih secara bebas dan langsung.

Sejauh ini belum ada tokoh yang menyatakan pencalonan mereka untuk menjadi presiden dalam pemilihan tahun ini.

Essebsi, mantan ketua parlemen di bawah Ben Ali, telah menjadi tokoh dominan di negara Afrika Utara itu sejak pemilihannya tahun 2014, kendati undang-undang yang membatasi kekuasaannya untuk hubungan luar negeri dan pertahanan. Tetapi dia telah kehilangan pengaruh sejak Youssed Chaded naik ke tampuk kekuasaan sebagai perdana menteri tahun 2016.



Credit  antaranews.com



Selasa, 12 Maret 2019

Malaysia Deportasi Terduga Teroris Asal Mesir dan Tunisia



Malaysia Deportasi Terduga Teroris Asal Mesir dan Tunisia
Polisi Malaysia sebut warga Mesir dan warga Tunisia yang diyakini memiliki hubungan dengan kelompok teror yang berbasis di Afrika telah ditahan dan dideportasi. Foto/Istimewa


KUALA LUMPUR - Polisi Malaysia mengatakan bahwa enam warga Mesir dan seorang warga Tunisia yang diyakini memiliki hubungan dengan kelompok teror yang berbasis di Afrika telah ditahan dan dideportasi.

"Salah satu warga Mesir dan Tunisia diduga anggota Ansar Al-Sharia Al-Tunisia, yang berbasis di Afrika Utara dan terdaftar sebagai kelompok teroris oleh PBB," kata kepala polisi nasional Malaysia, Mohamad Fuzi Harun dalam sebuah pernyataan.

Fuzi mengatakan keduanya ditahan pada tahun 2016 karena mencoba memasuki negara Afrika secara ilegal. Dia mengatakan mereka menggunakan paspor palsu untuk memasuki Malaysia pada Oktober tahun lalu dan berencana untuk menyelinap ke negara ketiga untuk melancarkan serangan.

"Lima warga Mesir lainnya dan dua warga Malaysia ditahan bulan lalu karena menyediakan makanan, tempat tinggal, tiket pesawat dan pekerjaan bagi dua tersangka teroris," ucapnya, seperti dilansir Al Arabiya pada Selasa (12/3).

Dia mengatakan pihak berwenang prihatin dengan masuknya teroris asing karena investigasi menunjukkan mereka mungkin menggunakan Malaysia sebagai "tempat yang aman" atau pusat logistik untuk melancarkan serangan di negara lain.

Dirinya menambahkan bahwa mereka yang telah dideportasi telah masuk dalam daftar hitam dan dilarang masuk ke Malaysia. 



Credit  sindonews.com



Senin, 11 Februari 2019

Tujuh orang dipenjara seumur hidup atas pembantaian di museum Tunisia


Tujuh orang dipenjara seumur hidup atas pembantaian di museum Tunisia
Seorang turis terluka menyusul serangan maut teroris ke Museum Bardo, Tunisia, pada Rabu (18/3/2015) (Reuters)



Tunis (CB) - Pengadilan Tunisia pada Sabtu (9/2) menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup atas tujuh orang karena keterlibatan mereka dalam dua serangan maut pada 2015 di sebuah hotel di Tunis serta sebuah hotel di pantai Laut Tengah.

Beberapa terdakwa lainnya mendapat hukuman penjara selama enam bulan hingga 16 tahun, menurut laporan kantor berita TAP yang mengutip keterangan juru bicara pengadilan, Soufiane Sliti.

Secara keseluruhan, ada 51 orang yang diajukan ke pengadilan selama persidangan yang berlangsung selama 18 bulan. Sebanyak 27 dari jumlah orang tersebut dibebaskan.

Serangan di Museum Nasional Bardo merenggut 21 korban jiwa sementara 38 orang tewas dalam serangan di Hotel Sousse, yang terletak 150 kilometer sebelah selatan Tunis.

Kedua serangan itu, yang terjadi dalam waktu tiga bulan, telah melumpuhkan perekonomian Tunisia karena agen-agen pariwisata utama Eropa hengkang.

Pariwisata merupakan sumber utama pemasukan devisa bagi negara itu, mencakup sekitar 8 persen dari produk domestik bruto.

Serangan juga sempat menghentikan reformasi politik, yang dipuji sebagai model peralihan demokratik setelah gelombang pemberontakan "Musim Semi Arab" mulai muncul tahun 2011.

Tunisia masih menjadi salah satu negara paling sekuler di dunia Arab. Namun, pihak berwenang setempat memperkirakan ada sekitar 3.000 warga negaranya yang telah bergabung dengan ISIS serta kelompok-kelompok garis keras lainnya di Irak, Suriah dan Libya.

Kunjungan wisatawan ke Tunisia sudah mulai kembali mengalir secara bertahan sementara pengamanan juga telah ditingkatkan.

Selama 2018, Tunisia telah menerima kedatangan 8,3 wisatawan dan hotel-hotel dipenuhi dengan para pelancong dari Aljazair, Rusia dan negara-negara lainnya di Eropa.





Credit  antaranews.com




Senin, 04 Februari 2019

Masalah Palestina Jadi Prioritas Utama Pembahasan KTT Arab

KTT Liga Arab
KTT Liga Arab
Foto: suarapalestina.id
Tunisia berkomitmen mendukung perjuangan bangsa Palestina.



CB, TUNIS -- Presiden Tunisia, Beji Cair Essebsi menyatakan akan menjadikan masalah Palestina sebagai prioritas utama yang dibahas dalam agenda KTT Arab. Pertemuan tersebut akan berlangsung di Tunisia pada akhir Maret mendatang.

Oleh karena itu, Essebsi menegaskan negaranya berupaya untuk membela hak-hak Palestina. Terlebih mengingat pencalonan Tunisia dalan keanggotaan tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

Essebsi pun menyatakan komtmen Tunisia untuk terus mendukung perjuangan bangsa Palestina. Hal itu diungkapkan Essebsi dalam sebuah pertemuan di Istana Carthage di ibu kota Tunis, Tunisia.

 “Dukungan Tunisia yang terus-menerus dan abadi bagi rakyat Palestina, pembelaannya atas alasan keadilan rakyat, dan komitmennya untuk mendukung dan mempertahankannya di semua forum regional dan internasional," tutur Essebsi seperti dilansir Middle East Monitor pada Ahad (3/2).

Essebsi menegaskan kesiapan negaranya untuk bekerja sama dengan Palestina. Tunisia juga mendukung Palestina dalam membangun negara yang merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.

“Menegaskan kembali kesiapan negara kita untuk bekerja sama dengan saudara-saudara Palestina, dan mendukung tuntutan mereka yang sah untuk membangun negara merdeka mereka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya,” katanya.





Credit  republika.co.id




Selasa, 27 November 2018

Warga Tunisia Kecam Kedatangan Putra Mahkota Saudi


Warga Tunisia Kecam Kedatangan Putra Mahkota Saudi
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS)


Jakarta, CB -- Warga Tunisia memprotes rencana kedatangan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman ke negaranya. Protes itu dilancarkan sebagai buntut dari kasus pembunuhan jurnalis Jamal Kashoggi.

"Tidak untuk menodai Tunisia, negara revolusi!" Begitu bunyi tulisan dalam spanduk besar yang dibeberkan oleh National Union of Tunisian Journalist. Spanduk itu menggambarkan seorang pria berpakaian tradisional Arab Saudi tengah menenteng gergaji seraya berdiri membelakangi kamera.

Mereka juga mengangkat spanduk bertuliskan, 'Bin Salman, penjahat perang' dan 'anak algojo'.


Demonstrasi itu digelar oleh sekitar 100 warga dari perkumpulan wartawan, LSM, dan organisasi masyarakat sipil di pusat Kota Tunis, Senin (26/11).



Melansir AFP, dalam sebuah surat terbuka untuk Kepresidenan Tunisia, para demonstran mengecam rencana kunjungan Pangeran Salman. Kunjungan itu dinilai berbahaya bagi keamanan dan perdamaian dunia, sekaligus juga sebagai ancaman nyata kebebasan berekspresi.

Rencana kedatangan Pangeran Salman, ujar mereka, menjadi sebuah pelanggaran yang mencolok atas prinsip-prinsip revolusi Tunisia.

Rencana kunjungan Pangeran Salman ini memang menimbulkan banyak kecaman warga Tunisia. Selain kumpulan wartawan, protes lainnya juga bakal dilakukan oleh kumpulan mahasiswa Tunisia di Tunis dan Safax pada Selasa (27/11).


Sebagaimana diketahui, Arab Saudi tengah menghadapi kecaman global yang kuat atas pembunuhan Kashoggi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu. Kashoggi dilaporkan tewas dalam kondisi mengenaskan.

Kecaman global semakin menjadi setelah Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) menarik simpulan bahwa Pangeran Salman memerintahkan pembunuhan jurnalis pengkritik rezim Raja Salman tersebut.

Pangeran Salman dikabarkan bakal mengunjungi beberapa negara di Afrika Utara pada Selasa (27/11) sebagai bagian dari tur regionalnya.




Credit  cnnindonesia.com


Senin, 09 Juli 2018

Tunisia Buru Milisi yang Tewaskan Tentara Perbatasan


Aparat Tunisia (ilustrasi).
Aparat Tunisia (ilustrasi).
Foto: Reuters

Milisi tewaskan enam tentara nasional Tunisia.




CB, TUNIS -- Sedikitnya enam tentara penjaga nasional Tunisia tewas pada Ahad (8/7) dalam serangan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata di dekat perbatasan Aljazair. Seorang juru bicara penjaga nasional, Kolone Houssemeddine Jbabli, mengatakan kepada The Associated Press, enam anggota penjaga nasional tewas dan tiga orang terluka.

Menurut lembaga pemantau ekstremis SITE, sebuah kelompok militan yang terkait dengan Alqaida, batalyon Uqba bin Nafi, mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.  Uqba bin Nafi mengatakan, para pejuangnya meledakkan sebuah peledak untuk membidik orang-orang Tunisia yang dilihat sebagai agen-agen Barat. Namun klaim itu tidak dapat segera diverifikasi.

Serangan itu terjadi di wilayah Ghardimaou, daerah pegunungan terpencil di bagian barat Tunisia. Para milisi dikenal menggunakan wilayah perbatasan pegunungan sebagai basis.

Mengutip seorang pejabat keamanan di tempat kejadian, TAP mengatakan sembilan anggota sedang berpatroli di dua kendaraan dan sebuah granat dilemparkan ke kendaraan pertama. Aksi kontak senjata tak dapat terhindarkan. Belum jelas berapa banyak penyerang di sana atau apakah ada korban di antara mereka.


Menteri Dalam Negeri Ghazi Jribi dikirim ke daerah itu oleh Perdana Menteri Youssef Chahed untuk mengawasi perburuan para penyerang. "Kami akan membalas dendam para martir kami dan kami tanpa henti akan mengejar para teroris ke tempat persembunyian terakhir mereka," kata Jribi. "Perang melawan terorisme adalah pertempuran jangka panjang, tetapi fenomena ini tidak memiliki masa depan di Tunisia."

Tunisia adalah target serangan mematikan oleh kelompok radikal yang menewaskan puluhan orang di sebuah resor pantai dan museum terkemuka di negara itu pada  2015.  Ancaman keamanan tampaknya telah berkurang sejak saat itu.


Setelah insiden pada Ahad, kementerian kebudayaan mengatakan semua acara artistik dan budaya yang dijadwalkan harus ditunda.





Credit  republika.co.id




Enam Polisi Tunisia Tewas dalam Penyergapan

Polisia Tunisia.
Polisia Tunisia.
Foto: AP

Polisi disergap saat melakukan patroli rutin.



CB, TUNIS -- Setidaknya enam anggota pasukan keamanan Tunisia tewas pada Ahad (8/7). Mereka tewas dalam penyergapan di barat laut negara yang dekat dengan perbatasan Aljazair itu.

Kantor berita negara TAP mengatakan sembilan orang tewas. Namun, kementerian dalam negeri menyebutkan jumlah korban tewas enam orang. Pejabat tidak bisa segera dihubungi untuk memberikan komentar. Ini adalah jumlah korban tertinggi sejak 2015.

TAP melaporkan unit polisi dari Gar Dimaou di wilayah Jendouba disergap selama patroli rutin. "Para penyerang teroris melemparkan granat ke mobil keamanan pertama dan ada konfrontasi dengan senjata api," tulis laporan itu.

Tunisia menjadi sasaran militan dengan pemberontakan melawan otokrat Zine Abidine Ben Ali pada 2011. Beberapa militan beroperasi di daerah-daerah terpencil dekat perbatasan dengan Aljazair, yang telah memerangi sisa-sisa pemberontakan besar Islam pada 1990-an.

Tunisia mengalami tiga serangan besar pada  2015. Serangan termasuk dua serangan terhadap wisatawan, satu di sebuah museum di Tunis dan di sebuah pantai di Sousse. Semenatra itu, serangan terhadap  penjaga kepresidenan di ibu kota, menewaskan 12 orang. Semua serangan itu diklaim oleh ISIS.

Pemerintah telah mempertahankan keadaan darurat, yang memungkinkan penggunaan kekuatan  lebih besar dalam upaya membongkar jaringan militan.







Credit  republika.co.id



Jumat, 06 Juli 2018

Wali Kota Perempuan Pertama Terpilih di Tunisia

Wali Kota Perempuan Pertama Terpilih di Tunisia
Souad Abderrahim (53) seorang manajer perusahaan farmasi membuat sejarah baru. Dia terpilih menjadi walikota pertama di Tunisia. (REUTERS/Zoubeir Souissi)


Jakarta, CB -- Souad Abderrahim (53) seorang manajer perusahaan farmasi membuat sejarah baru di Tunisia. Dia terpilih menjadi Wali Kota Tunis, perempuan wali kota pertama di Tunisia. Abderrahim mengalahkan Kamel Idir, kandidat dari Partai Nida Tounes yang didirikan Presiden Tunisia, Beji Caid Essebsi.

"Saya mendedikasikan kemenangan ini untuk semua wanita di Tunisia," kata Abderrahim dikutip dari AFP.

"Tugas pertama saya adalah memperbaiki wajah dari Tunisia," tambah dia.


Abderrahim dilantik Dewan Kota Tunisia dengan mengumpulkan 26 suara. Lawannya yang terdekat hanya mendapatkan 22 suara.

Dia maju sebagai calon independen tetapi didukung oleh partai Islamis Ennahda, sebuah partai Muslim moderat yang mendukung pemisahan agama dan politik.

"Kami telah memilih transparansi sebagai slogan," kata Abderrahim.

Abderrahim terpilih menjadi Majelis Konstituante Tunisia pada tahun 2011 setelah gerakan Arab Spring. Dia menjadi majelis sampai 2014.


Abderrahim pernah dikritik karena pernyataannya pada tahun 2011 bahwa perempuan yang mempunyai anak di luar pernikahan "tidak pantas untuk hidup".


Walikota Perempuan Pertama Terpilih di Tunisia
Foto: REUTERS/Zoubeir Souissi


Ucapan selamat berdatangan dari media sosial. Lewat Twitter orang-orang mengucapkan selamat kepada Abderrahim dan merayakan momen bersejarah tersebut

"Perempuan pertama dalam sejarah terpilih menjadi Wali Kota di ibukota Arab, hal ini mengubah segalanya, terutama kekuatan dari kesuksesan semacam itu," kata aktivis Amira Yahyoui.

Pengguna Twitter Mohamed Ali Azaiez juga mengucapkan selamat kepada Abderrahim, dengan menulis "suatu hari yang bersejarah bagi Tunisia, negara pertama yang mengabadikan hak-hak perempuan kedalam hukum, terutama untuk wanita Tunisia. Era baru bagi demokrasi kita dan tantangan besar untuk melayani negara kita. Selamat kepada Souad Abderrahim dan semua orang di Tunisia!"





Credit  cnnindonesia.com


Kamis, 07 Juni 2018

Perdana menteri Tunisia pecat mendagri setelah kecelakaan kapal


Perdana menteri Tunisia pecat mendagri setelah kecelakaan kapal
Ilustrasi (www.wikipedia.org)



Tunis (CB) - Perdana Menteri Tunisia Youssef Chahed telah memberhentikan Menteri Dalam Negeri Lotfi Brahem, demikian satu pernyataan pada Rabu.

Pernyataan tersebut tak menyebutkan alasan mengapa keputusan itu dikeluarkan.

Sebelumnya Chahed mengatakan, pada akhir pekan pasukan keamanan telah gagal menghentikan sebuah kapal yang membawa 180 migran tenggelam di pesisir Tunisia. Sedikitnya 68 orang meninggal dalam kecelakaan kapal itu.

Dari Tunis dan Jenewa, Reuters melaporkan jumlah korban meninggal dalam sebuah kapal terbalik dan kemudian di lepas pantai Tunisia pada Ahad (3/6) telah meningkat jadi sedikitnya 60 orang, dengan puluhan orang masih hilang, demikian badan migrasi PBB.

Kapal yang penuh sesak dengan migran itu tenggelam dekat Pulau Kerkenna, di bagian selatan Tunisia. Sedikitnya 100 orang meninggal dan hilang, kata Organisasi Internasional bagi Migrasi (IOM).

"Di antara 60 korban dibawa ke bagian forensik di rumah sakit Habib Bourguiba di Sfax, 48 orang adalah warga Tunisia ... 12 orang bukan warga Tunisia, identifikasi sedang berlangsung," kata Lorena Lando, kepala misi IOM di Tunisia dalam pernyataan Senin malam.

Para penyelundup manusia menggunakan Tunisia sebagai lokasi bagi penyelundupan migran menuju Eropa sementara penjaga pantai Libya, yang dibantu kelompok-kelompok bersenjata, telah meningkatkan kendali.

Pihak berwenang Tunisia, yang pada Ahad mengatakan mereka telah menemukan 48 mayat, tidak memberikan angka-angka baru tapi mengatakan penjaga pantai itu mencari puluhan orang yang masih hilang.

Badan pengungsi PBB UNHCR mengatakan 52 orang terkonfirmasi meninggal dengan 60 orang hilang dan menyampaikan kekhawatiran mengenai insiden-insiden di sepanjang rute Mediterania tengah.

"Karena itu UNHCR menganjurkan rute-rute aman bagi para pengungsi untuk pergi sehingga kematian-kematian yang tak perlu ini tak terjadi.

Orang hendaknya dapat menemukan perlindungan dan pergi dengan cara legal dan aman," ujar juru bicara UNHCR Willian Spindler dalam jumpoa pers.

Negara-negara harus menawarkan kepada pengungsi "jalan-jalan legal" termasuk permukiman kembali, reunifikasi keluarga dan visa mahasiswa, ujarnya.

UNHCR memperkirakan sekitar 17.000 pengungsi di Afrika Utara sangat memerlukan permukiman kembali.

IOM mengatakan 68 orang telah diselamatkan setelah kapal itu tenggelam - 60 orang Tunisia, dua Maroko, satu Libya, satu Mali, satu Kamerun dan tiga Pantai Gading. Dikatakan, 1.910 migran Tunisia mencapai Italia antara 1 januari dan 30 April, termasuk 39 orang wanita dan 307 anak di bawah umur, 297 di antaranya tak ada pendampingnya.

Pejabat-pejabat keamanan mengatakan kapal itu berisi penuh dengan 180 migran, termasuk 80 orang dari negara-negara lain di Afrika.

Mereka yang selamat dalam insiden itu mengatakan kapten kapal itu telah meninggalkan kapal setelah mulai tenggelam dan kabur menghindari penangkapan penjaga pantai, demikian Reuters melaporkan.




Credit  antaranews.com




Jumat, 29 Desember 2017

Turki-Tunisia Perkuat Kerjasama Bilateral


Turki-Tunisia Perkuat Kerjasama Bilateral.
Turki-Tunisia Perkuat Kerjasama Bilateral.


CB, ISTANBUL -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan kunjungan dua hari ke Tunisia. Kedatangan Erdogan disambut oleh Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi. Pertemuan keduanya sekaligus membahas kerjasama kedua negara.
Seperti diwartakan Aljazirah, Kamis (28/12) sesampainya di Tunisia, Erdogan dijamu di istana presiden. Dalam kunjungan itu Erdogan juga bertemu Perdana Menteri Tunusia Youssef Chahed dan Juru Bicara Parlemen Muhammed al-Nasir.
 
Kedua negara sepakat untuk bekerjasama dalam empat bidang, diantaranya ekonomi, pertahanan, perdagangan dan lingkungan. "Meningkatkan volume perdagangan merupakan prioritas dari agenda ekonomi kami," kata Erdogan dalam konferensi Pers seperti dikutip Anadolu Agency.
 
Dalam kunjungannya itu, Erdogan membawa serta sekitar 150 investor dari Turki untuk menanamkan modal mereka di Tunisia guna membantu pertumbuhan ekonomi negara. Menurut Menteri Luar Negeri Turki, perdagangan kedua negara mencapai 820 juta dolar pada 2015 kemarin.
 
Sementara dalam bidang pertahanan, kedua negara sepakat untuk mengadakan kerja sama militer. Dalam hal ini, tentara Tunisia nantinya akan diberikan kesempatan untuk mendapatkan pelatihan militer di Turki.
 
Dalam kesempatan itu, kedua kepala negara juga menyempatkan diri guna membahas isu-isu terkini seperti status Yerusalem. Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi mengatakan, Tunisia dan Turki sama-sama menolak dengan tegas keputusan sepihak Amerika Serikat yang mengakui kota suci tersebut sebagai Ibu Kota Israel.
 
Hubungan antara Turki dan Tunisia terus mengalir sejak revolusi Tunisia pada 2011 lalu. Peristiwa tersebut menggulingkan pemimpin Tunisia lama, Zine El Abidine Ben Ali. Sedangkan, kunjungan Erdogan di kawasan Afrika akan dilanjutkan ke Chad dan Sudan.
 
Dalam sebuah konferensi pers itu Erdogan juga sempat menyebut jika Presiden Suriah Bashar al-Assad merupakan teroris yang sebenarnya. Dia mengatakan, tidak ada tempat bagi al-Assad untuk masa depan Suriah. Menurutnya, Suriah sangat tidak mungkin bisa maju jika presidennya adalah al-Assad.



Credit  REPUBLIKA.CO.ID





Jumat, 15 Desember 2017

Tunisia Serukan Boikot Produk Amerika Serikat


Yerusalem, Tunisia Serukan Boikot Produk Amerika Serikat
Sejumlah pengunjuk rasa membakar bendera Amerika Serikat saat melakukan aksi setelah Presiden Trump menunjuk Yerusalem menjadi ibukota Israel di Tunis, Tunisia, December 7, 2017. REUTERS/Zoubeir Souissi

CB, Jakarta - Tunisa mendesak negara-negara Arab dan muslim memboikot seluruh produk Amerika Serikat menyusul keputusan Presiden Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Koalisi Tunisia juga meminta duta besar Amerika Serikat diusir.
"Reaksi alami dari pendukung Palestina adalah memboikot seluruh produk Amerika Serikat," kata juru bicara koalisi, Hamma Hammami.


Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi. presstv.ir
"Seruan lainnya, tutup kedutaan besar Amerika Serikat di Tunisa dan negara-negara Arab serta mengusir seluruh duta besarnya. Ini langkah serius terhadap pemerintahan Amerika Serikat," ucapnya seperti dikutip Middle East Monitor.
Unjuk rasa pecah di ibu kota Tunisa, Tunis, menentang keputusan Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Aksi jalanan tersebut digalang oleh Front Popular dan Sekretaris Jenderal Partai Arus Popular, Zouhair Hamdi.


Sejumlah pemimpin Muslim dari berbagai negara berdoa bersama penulis Prancis-Yahudi Marek Halter dan Menteri Dalam Negeri Belgia Jan Jambon saat melakukan tur Eropa ke lokasi serangan teroris yang terjadi baru-baru ini, di Brussels, Belgia, 10 Juli 2017. Kegiatan ini diikuti sejumlah Imam dari berbagai negara termasuk Prancis, Belgia, Inggris dan Tunisia serta perwakilan komunitas agama lainnya. REUTERS/Francois Lenoir
Dalam pidato aksinya, Hamdi menekankan pada pentingnya memperluas dan mendiversifikasi dukungan Tunisia terhadap isu Palestina. Keputusan Amerika Serikat pekan lalu dianggap momen penting memberikan dukungan penuh kepada Palestina.





Credit  TEMPO.CO


Kebijakan Trump Munculkan Seruan Boikot Restoran AS di Saudi


Starbucks
Starbucks


CB, JAKARTA -- Sejumlah masyarakat di Arab Saudi mulai menyerukan kampanye boikot atas produk-produk Amerika Serikat (AS). Seruan itu muncul sebagai reaksi atas pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Tanda pagar #BoycottAmericanRestaurants sempat menjadi trending di Twitter pada Selasa (13/12) kemarin. Laman Fox News yang mengutip Newsweek melaporkan dalam kampanye ini, masyarakat Saudi diajak agar tak lagi membeli makanan di jaringan restoran asal Negeri Paman Sam. Di antaranya McDonald's, Starbucks, Burger King, dan Pizza Hut.

"Dengan berpartisipasi memboikot produk AS Anda bisa ikut memengaruhi perekonomian AS. Gerakan masyarakat punya dampak lebih besar daripada kebijakan pemerintah," demikian kicau seorang warganet yang dilansir dari The New Arab.

Ajakan boikot ini mencuat kurang dari sepekan setelah Trump mengumumkan bahwa Yerusalem diakui sebagai ibu kota Israel. Ia pun memerintahkan agar Kedutaan AS dipindah dari Tel Aviv ke Yerusalem. Keputusan kontroversial ini menuai banyak kritik dari seluruh dunia karena dianggap tidak mendukung upaya perdamaian antara Israel dan Palestina.

Di sisi lain, ada juga masyarakat yang pesimis memandang seruan boikot ini. Mereka menilai kampanye ini tidak efektif apalagi seruan tersebut memanfaatkan Twitter yang notabene juga produk AS.

Berdasarkan rilis EuroMonitor International, berbelanja dan wisata kuliner adalah dua aktivitas yang amat digemari warga Saudi. Banyak masyarakat negara ini yang gemar menghambur-hamburkan uang.

McDonald's adalah salah satu restoran siap saji paling populer di Arab Saudi sejak 2016. Negara ini berkontribusi delapan persen terhadap market share McDonald's di seluruh dunia. 


Credit  REPUBLIKA.CO.ID